SSSP: Singgung Sedikit Soal Pengaruh

Beberapa hari lalu ada seorang tokoh twitter yang bilang kalo pornografi terbukti tidak berpengaruh akan tingkat perkosaan suatu negara. Saya bilang, di sini (Indonesia) berita-berita pemerkosaan hampir selalu diikuti embel-embel keterangan bahwa si pelaku melakukan tindakan tersebut sehabis menonton film porno, karena itu banyak orang yang berasumsi bahwa pornografi menyebabkan perkosaan. Orang itu menjawab, itu analisa sebab-akibat yang  malas dan terburu-buru. Buktinya berapa orang yang mengkonsumsi pornografi tapi tidak memerkosa orang? Pastinya jauh lebih banyak daripada yg memerkosa. Tindak perkosaan adalah urusan kekerasan, bukan pornografi.

Tadi pagi, saya tidak sengaja membaca artikel di internet tentang ‘incest karena pengaruh internet’. Mau tidak mau pikiran saya kembali ke rangkaian kicauan tokoh twitter tersebut. Semudah itukah kita menyimpulkan kalo sesuatu itu mempengaruhi sesuatu? Yang lebih parah, semudah itu kita berasumsi kalau A mempengaruhi terjadinya B itu sama artinya dengan A adalah sumber alasan terjadinya B. Kita suka lupa bahwa kata “pengaruh” itu luas dan sifatnya tidak sama rata untuk tiap orang.

Maksudnya gini, kita terbiasa mengambil jalan pintas sehingga ketika apabila pada kasus-kasus pemerkosaan sang pelaku mengaku melakukannnya sehabis menonton film porno, masih banyak orang yang berpikir kalau menonton film porno itu akan membuat seseorang memerkosa orang lain. Sama juga kaya kasus rok mini. Rok mini dianggap sebagai pemicu perkosaan, padahal ada berapa ratus juta laku-laki yang melihat perempuan dengan rok mini dan tidak memerkosanya?

Pola berpikir dalam menyimpulkan ‘pengaruh’ itu jadi dilihat dengan pola begini:

dilihat contoh kasus, apa yg dilakukan/kebiasaan dari orang-orang yg melakukan tindakan A.

lalu disimpulkan begini:

bahwa apa yg dilakukan/kebiasaan orang-orang yang melakukan tindakan A adalah penyebab terjadinya tindakan A.

tapi jarang dibalik diuji menjadi begini:

apakah tindakan atau kebiasaan tersebut akan membuat orang-orang yang tidak/belum pernah melakukan tindakan A menjadi melakukan tindakan A?

Misalnya gini, Budi kebiasaannya dengar musik keras dan setiap habis dengar musik keras itu bawaannya selalu jadi ingin merusak-rusak barang. Diuji ke Adi, Lala, dan Joni yang tidak suka merusak barang. Apakah ketika Adi, Lala, Joni disuruh mendengar musik yang sama mereka lalu jadi ingin merusak-rusak barang juga?  Kalau ketiganya jadi ingin merusak barang juga, baru bisa ditarik kemungkinan kalau musik keras memang penyebab terjadinya impuls merusak barang. Kalau tidak, berarti musik keras tidak bisa dibilang penyebab terjadinya impuls merusak barang.

Pola pikir seperti itu yang seharusnya juga diterapkan untuk kasus pornografi -perkosaan, rok mini – perkosaan, ataupun incest – internet. Menurut saya.