Once upon a time

Lelaki itu memainkan rokok yang sedaritadi berada di tangannya. Matanya berlari-lari ke segala penjuru, kecuali satu tempat itu. Tempat sepasang mata dari seorang perempuan yang sangat dikenalnya berada. Ia sering mendengar kata mutiara bahwa mata adalah jendela hati, tapi baru malam ini ia benar-benar mengerti artinya.

“yah, begitu lah. Kamu kenal saya kan..” ucapnya dengan sedikit kaku diiringi tawa kecil yang dipaksakan. Perempuan itu langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan dua anak kecil yang sibuk berlarian di bawah rintik hujan. Tetiba perempuan itu merasa getir. Dulu juga ia suka berlarian di bawah hujan, tertawa-tawa tanpa beban tanpa perlu memikirkan baju dalamnya yang akan tembus pandang ataupun ratusan ribu yang baru saja ia habiskan di salon terkemuka untuk membuat rambutnya terlihat sempurna seperti sekarang.

No, I don’t” sahut perempuan itu dengan suara yang nyaris tak terdengar dan pandangan yang masih mengarah ke dua anak kecil tadi.

“Hah? Kamu barusan ngomong sesuatu?” Tanya lelaki itu sedikit bingung. Perempuan itu lalu menengok ke arahnya. Membuat kontak mata yang dari tadi ia hindari. Ia tak bisa lari lagi, saatnya harus menghadapi, pikir lelaki itu.

I don’t know you. I used to know you. Not anymore” ucap perempuan itu mantap tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari sepasang mata yang ketakutan itu. Lelaki itu terdiam. Ia mematikan rokoknya dan menatap perempuan itu dengan serius.

“Iya, salah saya. Kamu ga kenal saya lagi, saya sadar sepenuhnya emang salah saya. Saya minta maaf. Tapi saya belum berubah, Ta. Masih Tama yang kamu kenal. Saya masih laki-laki itu, lelaki payah yang suka nangis di depan kamu. Masih sama Ta, ga berubah.”

No. You’re not. Kamu bukan Tama yang saya kenal. Bahkan saya pun juga bukan Renata yang kamu kenal. Kita bukan lagi ‘renatama’ yang dulu kita tulis di mana-mana. Lebih jauh, kita udah bukan kita. Sekarang cuma ada kamu, Tama, dan saya, Renata. Dua hal yang ga ada hubungannya. Jadi saya ga ngerti untuk apa ada basa-basi bertukar kabar ini. Kamu mau apa sih sebenernya?” Perempuan itu mulai kesal, ia merasa diremehkan. Dua tahun sudah mereka tidak bertegur sapa, hanya karena pertemuan tak sengaja di warung kopi ini tetiba lelaki ini bersikap kalau semua hal masih sama. Dia pikir dia siapa, rutuk perempuan itu.

“Saya.. cuma..” ingin minta maaf, lanjutnya dalam hati. Kata yang tak pernah berhasil melukiskan rasa bersalahnya. Seberapa banyak pun kata itu terucap, tidak akan pernah cukup untuk bisa menarik lagi perbuatannya dan menghapus luka perempuan itu, pikirnya. Lelaki itu mengambil rokok yang ada di sebelah tangan kanannya dan mulai menyalakan satu batang racun favoritnya. Salah, bukan rokok, racun favoritnya adalah cintanya pada perempuan yang ada di depannya ini, lanturnya dalam hati. Cinta yang ia pikir sudah lama mati sampai tadi ia tidak sengaja bertemu mata itu lagi.

“Terus, apa kabar.. mmh.. Fachri?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Perempuan itu sudah mengalihkan pandangan dari matanya, lelaki itu merasa sedikit lega.

“Baik,” katanya seraya mengangkat tangan kanannya, membuat cincin bermata satu yang bertengger di jari manisnya terlihat jelas. Lelaki itu tersenyum. Sudah tahu, katanya dalam hati. Kamu bukan satu-satunya stalker di sini, Ta.

“Alhamdulillah.. saya bahagia dengernya,” ucapnya dengan nada setulus mungkin.

“Please deh Tam, tanpa denger kabar itu juga kamu udah sangat bahagia. Ga usah sok noble,” jawabnya asal. Dua anak tadi masih berlarian di pinggir jalan, memainkan payung mereka yang sudah setengah usang. Ojeg payung? Pikir perempuan itu penasaran. Sederhana sekali konsep bahagia mereka, lanturnya dalam hati. Ia mendadak merasa sangat bosan dengan segala basa-basi yang disuguhkan lelaki di depannya, ia ingin cepat pulang tapi hujan sialan itu menahannya di sini. Padahal Fachri pasti sudah di rumah, menantinya dengan semangkuk pasta panggang seperti yang sudah dijanjikannya dari minggu lalu. Ia lalu teringat tadi malam, bagaimana Fachri memeluknya dengan erat sepanjang mereka bercinta, ia tersenyum mengingatnya.

“Ta..” panggil lelaki itu pelan. Perempuan itu seperti baru tersadar dari lamunannya lalu menengok ke arahnya dengan mimik seakan menantang ‘mau ngomong apa lagi?’. Lelaki itu ciut. Semua keberaniannya yang ada tadi ketika tak sengaja berpapasan dengan perempuan ini dan mengundangnya duduk semeja dengannya, sekarang hilang entah ke mana. Mungkin seharusnya ia tadi lari saja kembali ke mobilnya. Toh jaraknya hanya beberapa langkah dari warung kopi ini, dan ia jelas tidak akan mati hanya karena masuk angin kehujanan, pikirnya. Tapi sesuatu yang sedari tadi berputar di perutnya tiap ia memandang perempuan di depannya ini membuat kakinya kaku dan berjalan dengan sendirinya. Ke arah perempuan ini.

“Kemarin-kemarin ini Ibu sempet ngomongin kamu loh,” kata-kata itu meluncur keluar dari mulut lelaki itu tanpa sadar. “Katanya dia liat facebook kamu dan liat foto kamu pas lagi di NY, dia bilang dia bangga sama kamu tuh. Katanya kamu akhirnya bisa ngewujudin impian kamu ke sana dan dia ikut seneng,” lanjutnya.

“Oh. Tapi pasti lebih bangga pas dia punya cucu  kan?” jawab perempuan itu penuh nada sindiran. Lelaki itu langsung terdiam. Lelaki itu tahu, ia pantas mendapatkannya. Sindiran itu, maupun sindiran yang mungkin akan datang berikutnya. Ia tahu. Lalu kenapa ia tetap nekat menahan perempuan ini duduk di meja yang sama dengannya, ia pun tidak tahu jawabannya. Koreksi lagi, ia tahu persis kenapa. Detak jantungnya yang sudah dari tiga puluh menit yang lalu berdetak lebih kencang dari biasanya buktinya.

“Maaf Tam, tapi kita berdua juga tahu kalo apapun yang ibu kamu pikirin soal saya, sekarang udah ga ada hubungannya sama saya. Kamu punya hidup yang kamu urusin, punya istri yang pasti udah bersusah payah untuk bikin ibu kamu bangga, jadi omongan kamu barusan itu ga ada kepentingannya untuk kamu kasih tahu saya. Saya tahu, alasan kamu sekarang duduk di depan saya sok-sok ngajak saya ngobrol itu karena rasa bersalah kamu yang mendadak balik lagi pas kamu liat saya tadi. Maaf juga, tapi rasa bersalah kamu ke saya itu bukan urusan saya. Segala hal tentang kamu sekarang bukan urusan saya. Udah ya. Saya rasa cukup basa-basinya. Saya mau pulang, Fachri pasti ga suka saya lama-lama di sini bareng kamu. Bye,” perempuan itu beranjak dari tempat duduknya. Ia mencoba untuk melihat sepasang mata itu terakhir kalinya. Mata yang dulu selalu bisa membuatnya luluh, apapun keadaannya. Mata yang baru saja sukses membuka lagi luka lamanya. Membuat dadanya sesak menahan marah, dan matanya perih menahan tangis yang tidak boleh ia keluarkan. Tidak di sini, pikir perempuan itu, tidak untuk lelaki ini. Perempuan itu tidak ingin meneteskan barang setetespun air matanya untuk lelaki ini lagi. Ia membalikkan badannya dan langsung berjalan ke pintu keluar. Dia akan membuat dua anak kecil tadi tidak sia-sia kehujanan, hiburnya.

Lelaki itu ingin sekali menahannya pergi. Tapi ia juga tidak tahu untuk apa. Sudah terlambat untuk menahannya sekarang, terlambat tiga puluh enam bulan tiga minggu sebelas hari lalu. Kalau beranak mungkin sudah jadi tiga, lanturnya lagi. Ia lalu teringat lelaki mungilnya di rumah. Ia teringat senyumnya dan celoteh kecil ‘da..da..da..’ tiap ia menggendongnya. Tetiba saja, alasan apapun yang membuatnya ingin menahan perempuan itu dan berlama-lama duduk di warung kopi ini terasa tidak penting lagi. Betul, sama seperti perempuan itu, ia pun harus segera pulang. Ada sebentuk nyawa yang sedang menunggunya di sana.

Advertisements

#111

You know what’s so annoying for a bride-to-be? For me is the amount of ‘are you sure? are you really really sure?’ questions asked to me. Doh. My first reaction is: “what’s wrong with you guys? If you don’t believe in marriage, that’s your problem. So keep it to yourself.” No, I don’t really say anything like that -a least not loudly. But then I remember that they don’t mean any harm. They just want me to be really sure because I’m taking the biggest step of my life, yet.

So really, am I sure? Am I really really and fully sure I want this? The honest answer is, no. I’m not really really and fully sure. I mean I believe I’ve made the right decision and I believe I won’t regret it. I also know I’ve chosen the right person, not really sure whether he’s ‘The One’, but he surely is the one who just clicks. But am I sure I’m ready to commit to something FOR THE REST OF MY LIFE? Err….. God! That’s an effing hard question. I wonder whether any of those who’s now married were really that sure when they said their vow.

And above all, really, do I have to? Do I have to be really really and fully sure? Really? I don’t think so.

I don’t believe in forever nor that I ever expect one. I believe in doubt and I believe that’s what really makes a relationship strong. You’re sure today, you’re in doubt tomorrow, that’s only natural. But then you choose. You choose whether you want to stick into what you’ve chosen or to run away and back to square. Again and again until ‘you both shall live’. I believe that the commitment a person make when they decided to get married is not a one for a lifetime commitment. Instead, it’s a commitment and a decision they would have to make over and over again. Just like an art piece I once saw, a miniature of a wedding car going through a never-ending road with open doors along the way. It’s not just one door that you need to open once. It’s a million or even gazillion doors you have to go through and try to open again and again.

So yes, you can throw your question again and again to me. Maybe I’ll say yes, maybe I’ll say not really. It doesn’t matter. I believe I’ve made the best decision I ever did in my life. I just have to remind myself, again and again, to sick into it. Until something really proves me that I’m wrong or as long as we both shall live, either one. I really do hope it’s the latter.