My Gingerbread E910 vs Ice Cream Sandwich AD683G

I hate Ice Cream Sandwich. No. Not the real ice cream (or sandwich), I hate the Ice Cream Sandwich version of AndroidOS. I’ve just changed my nice Gingerbread phone (1Ghz single core) with a renewed-should be improved-same brand Ice Cream Sandwich phone (1Ghz dual core), and I don’t like it. At all. It’s laggy, it doesn’t give you option of having your menu all scrolled down like in Gingerbread -HTC, HiSense, and several other brand do this for their FroYo/Gingerbread version but all changed in the ICS version- and it’s laggy. Did I just say laggy two times? Oh well, another one: laggy.

I’ve tried Samsung, HTC, HiSense, LG, and Lenovo, and noticed that all devices on ICS run a tad -for some, much- slower than their predecessor Gingerbread phone. Why oh why such company would want to make an improve of some gorgeous operation system and replacing it with the uglier one? Why Google, why?

But then again, I’m not a tech genius. They are the one who know better, don’t they?

Argh! Hate it.

Advertisements

Once upon a time before that..

“Sometime letting go of your past seems like the hardest thing to do, but in reality, accepting your future is harder.”

Perempuan itu melotot. Bibirnya mengerut. Tangannya mengepal menahan marah. Seluruh gerak-geriknya tampak seperti bom waktu yg siap meledak.

“Sembilan belas! Sembilan belas September kamu jadian sama perempuan itu, Tama! Sembilan belas September! Kamu putus sama saya tanggal berapa? Hah? Empat belas, Tama.. EMPAT BELAS! Kamu jadian sama perempuan itu lima hari abis kita putus! Lima. Hari. Semua.. semua kata-kata maaf, kata-kata berharap bisa balikan, semua gombalan itu ternyata memang cuma sebatas gombalan kan?? Ya Allah, Tam.. Ga berenti kamu boongin saya ya? Nyakitin saya? Saya kurang nangis apa sih, Tam? Hah?!” Dan bom itu pun meledak. Beberapa pasang mata di kafe itu mulai melirik ke arah teriakan perempuan itu, tapi ia bergeming. Ia tidak peduli lagi apa yg akan orang-orang itu pikirkan. Ia cuma mau semua rasa sakitnya keluar. Cintanya, perihnya, semua. Keluar pergi bersama setiap naikan oktafnya.

“Kamu tau persis, Tam! Tau persis! Sama saya itu cuma satu, jangan bohong. Kamu mau brengsek? Mau ga cinta sama saya lagi? Man up and say it straight to my face for god damn sake! FUCK!” Teriaknya lagi tak mampu menahan kata-kata yg sudah berbulan-bulan tersimpan di dadanya. Perempuan ini tidak pernah ingin ada kejadian ini. Tidak pernah mimpi berteriak-teriak di tengah tempat umum seperti sekarang. Tapi lelaki di depannya ini tak tahu batas. Ia tiba-tiba meneleponnya di tengah hari bolong dan mengajaknya bertemu. Ada yg belum selesai, katanya. Cih. Jelas saja belum selesai, semua kalimatnya tak lain hanya kebohongan, meninggalkan seribu tanda tanya yg berkarat menjadi borok di hatinya. Dan sekarang lelaki ini hanya bisa menunduk? Menunduk? Oh my

“Ini tuh ga segamblang yg kamu pikirin, Ta. Ga sesederhana it..”

“Ya jelasin! Sederhana, rumit, apapun. Jelasin ke saya! Kamu ga ngerti gimana frustasinya saya ga pernah bisa ngerti kenapa keadaannya jadi begini. Ga pernah ngerti kenapa kamu ngelakuin semua yg kamu lakuin. I just need to understand. I need to understand, Tam.. so I can let go any of this..” perempuan itu pun mulai terisak. Pelan. Tapi sudah cukup untuk membuat tiap sengguknya bagai sayatan di hati lelaki itu. Ia cinta perempuan di depannya ini, cinta. Tidak salah lagi. Walaupun sudah ratusan kali ia meragukan rasanya pada perempuan itu, tiap kali selalu berujung ke kesimpulan yg sama: ia cinta. Rasa cinta itu yg membuatnya berani menekan urutan angka yg sudah ia hapal di luar kepala, berani mengucap sapa yg diakhiri ajakan bersua. Tapi melihat perempuan yg ia cinta menangis karenanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menanggung semua sakit perempuan itu, kalau saja bisa. Tapi bagaimana caranya?

“Renata.. aku..”

“Minta maaf?” Perempuan itu menyelesaikan kalimat yg juga sudah dihapalnya benar.

“Kenapa sih kamu ga pernah ngerti, Tam. Bukan maaf kamu. Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali kamu minta maaf pun ga akan bikin luka saya sembuh.”

“Iya, aku tau.. Saya emang udah brengsek banget sama kamu, Ta.”

“Ga! Sorry. Maksudnya, iya. Kamu brengsek banget. Tapi ga, kamu ga tau apa-apa. Kamu mau maaf? Saya bisa maafin kamu. Bahkan saya cukup yakin kalo saya udah maafin kamu, ga perlu lagi diuji dengan banyaknya permintaan maaf kamu itu. Sekarang bukan itu yg saya butuh, bukan maaf ataupun rasa bersalah kamu. Saya butuh ngerti, Tam. Butuh ngerti.. kenapa kamu bisa bilang kamu cinta, kamu bilang kamu maunya saya, tapi ujungnya semua pilihan kamu ga nunjukin itu sama sekali.. Saya butuh berhenti. Butuh tutup buku dari semua mimpi buruk ini dan mulai nulis cerita baru. Tapi untuk itu, saya butuh semua tanda tanya yg ada di kepala saya ini selesai. Itu pun kamu ga bisa kasih sama saya.”

“Renata.. bukan git.. bukan say.. buk.. argh!” Lelaki itu menggebrak meja yang lagi-lagi membuat semua tatapan orang di kafe itu beralih ke tempat ia dan perempuan itu duduk. Bukan ia tak mau memberi apa yg dicari perempuan ini, ia tak bisa. Karena ia pun tak tahu jawabannya. Tangannya mulai menggaruk-garuk rambut kebanggaannya dengan gusar. Kalau saja bisa, ia juga ingin berteriak saat ini. Tapi beda dengan teriakan perempuan itu, teriakannya tidak akan berbentuk kata. Hanya kumpulan bunyi tanpa arti, yg penting keluar. Keluar bersama rasa sesaknya yg dari tadi ada di dada. Ia ingin membanting gelas, membalikkan meja, lebih gila, ia ingin melempar api ke arah pasangan yg dari tadi bermesraan dua meter di belakang punggung perempuan itu. Ia ingin marah. Tapi tidak mungkin. Ia tahu bahwa perempuan itu lebih butuh pelepasan, bukan pemandangan yg sarat kekerasan. Jadi ia diam saja dan mulai menunduk lagi, pekerjaan yg sepertinya mulai menjadi hobi lelaki itu tiap kali bertemu dengan perempuan di depannya ini.

“Kalau kamu ga bisa ngasih apa yg saya butuhin, kamu mending pulang, Tam.” Katanya masih sambil berisak. Ia tak sanggup menahan tangisnya, sekeras apapun ia mencoba.

“Pulang dan ga usah lagi sok-sok telepon saya bilang ada yg belum selesai. Percuma. Kalau pertemuannya cuma akan seperti ini lagi, sampai kapanpun tidak akan selesai. Kalau mau selesai, caranya cuma satu. Saya cuma harus merelakan untuk selamanya jadi pihak yg tidak mengerti, itu saja.” Lelaki itu masih menunduk. Menatap sepatunya yg ia mulai hapal betul letak setiap miring jahitan ataupun garis kerutannya setelah tak terhitung berapa kali ia menunduk menatapnya hari ini. Ia menimbang- menimbang apa yg paling baik dilakukan saat ini. Pergi? Bertahan duduk di depan perempuan itu tanpa bisa memberikan apa yg dimintanya, dibutuhkannya? Apa?

“Mmh.. saya ga bisa. Saya ga bisa pergi ninggalin kamu dengan keadaan kaya gini.” Katanya reflek. Padahal bukan kata-kata itu yg barusan terancang di otaknya.

“Huh. Kamu udah ninggalin saya dalam keadaan jauh lebih parah dari ini beberapa bulan lalu, Tam. Apa bedanya sama sekarang?” Sindir perempuan itu tajam. Perempuan itu memang selalu lihai dalam menyindir seseorang, menorehkan luka tak kasat mata melalui belati di lidahnya. Lelaki itu pun terdiam.

“Baik.. kalau itu mau kamu, saya akan pergi sekar..”

Oh, fuck it! Ga bisa gitu kamu sekali aja jadi laki-laki dan ambil tanggung jawab sama pilihan kamu? Pergi ya pergi aja, ga usah lagi bawa-bawa ‘kalau itu mau kamu’ seakan-akan itu satu-satunya alasan kamu milih pergi!” Matanya yg bengkak karena menangis sekarang menatap lelaki itu geram. Menantang lelaki itu bersikap selayaknya pejantan, untuk terakhir ini saja. Lelaki itu menunduk lagi, menghembuskan napas panjang, dan mengangkat kepalanya menatap perempuan itu.

“Oke. Saya pergi ya. Saya berdoa supaya kamu bisa nemuin orang yg bisa bahagiain kamu lebih dari apapun. Ga kayak saya yg kerjanya cuma nyakitin kamu. Saya bener-bener minta maaf, Ta. Asal kamu tau, piala itu -piala yg aku kasih ke kamu dulu, itu masih kamu orangnya, Ta. Have a wonderful life, Renata..” Lelaki itu berdiri dari sovanya dan melangkah ke arah pintu keluar, perempuan itu melirik sekilas ke arah punggungnya. Sedetik. Lalu ia melanjutkan isaknya. Membiarkan air matanya sekali lagi menyelimuti lukanya. Biar saja, satu hari lagi saja. Karena besok ia akan kembali membusungkan dadanya, menaikkan dagunya, siap menerjang apapun yg diberikan hidup padanya. Tapi hari ini, ia hanya ingin menangis sepuasnya.