Once upon a time after that..

Lelaki itu melirik jam tangannya. Bukan, bukan karena ia ingin buru-buru pergi dari tempat itu. Ia tahu, perempuan di depannya hanya punya waktu sampai jam enam dan masih terlalu banyak hal yg ingin ia bicarakan pada perempuan itu. Ia berharap jarum jamnya berhenti. Semua tanggung jawabnya, jalan hidup yg ia pilih, cerita-cerita yg mengitari sejarah ia dan perempuan itu berhenti. Hanya ia dan perempuan itu, di momen ini, berhenti. Agar ia dapat melumat tatapan perempuan itu lekat-lekat. Pelan-pelan. Menikmati setiap komunikasi non-verbal yg berdansa di antara mereka.

“Kamu ngedapetin perempuan yg kaya saya. Lebih tua dari kamu yg otomatis lebih bisa ngurus kamu, agak asal yg otomatis bisa kamu ajak bercanda sesilly apapun, bisa kamu tanyain pendapatnya, plus dengan kelebihan-kelebihan yg tidak saya miliki. Bukannya itu yg selalu kamu pengenin? Berarti sudah tercapai toh? Apa perlu saya nyanyi bait pertama Someone Like You-nya Adele untuk memperjelas situasinya?”

“Ghehehe.. kamu bisa aja, Ta. Dia.. oke. Saya akuin, ada beberapa hal dari dia yg ngingetin saya sama kamu. Tapi.. ya.. ga ko. Kamu bukan dia.”

“Ya iya lah saya bukan dia. Kalo saya dia mungkin kamu milihnya saya. Gitu maksud kamu? Hih. Masih aja egomaniak, Tam.”

“Ampun, Ta.. Kenapa sih kamu selalu aja nganggepnya yg jelek-jelek aja ke saya? Kayanya apa aja yg keluar dari mulut saya tuh jelek semua. Kamu juga tau lah, bukan itu maksud saya!” Balasnya seraya frustasi. Frustasi. Satu kata yg paling tepat menggambarkan reaksi yg kerap kali muncul tiap ia berhadapan dengan perempuan ini. Perempuan ini selembut air yg menyejukkan di siang hari, tapi juga sekeras batu. “Ga semua hal itu kaya bilangan biner. Ga selalu salah bener.”

“Bilangan biner? Salah bener? Haloo… bumi memanggil Tama, harap tolong alien di depan saya dituker dengan Tama yg asli. Sejak kapan kamu mikirin hal-hal kaya gitu? Bukannya buat kamu semua selalu item-putih? Semua sederhana. Ga perawan = murahan. Agama islam = bener. Yg lain = salah. Begitu bukan?” Lelaki itu ingin menepuk kepalanya sendiri. Waktu mereka hanya sedikit, ia tidak ingin waktu itu habis hanya untuk obrolan absurd begini. Ia ingin.. ia ingin.. ia termenung. Apa ya yg sebenernya ia ingin? Ia juga tahu kalau pertemuan ini tidak akan membuatnya lega sedikitpun. Yg ada mungkin hanya menambah karat di dalam dadanya. Tapi ia dengan bodohnya, nekat melakukannya lagi dan lagi. Sakit. Mungkin ia sakit. Tidak, jawabnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya. Bukan ia yg sakit, perempuan di depannya yg sakit. Karena masuk akal buatnya untuk ingin menemui perempuan ini lagi dan lagi, tapi buat perempuan ini? Perempuan ini pasti sangat sakit untuk mau menemuinya lagi. Atau terlalu baik. Atau.. cinta? Mungkinkah perempuan ini masih menyisakan cinta untuknya? Ia menatap mata perempuan itu.

“Renata, kamu bahagia?” Perempuan itu diam seraya menatapnya. Diam. Satu.. dua.. lima detik berlalu. Perempuan itu pun menghela napasnya.

“Iya, Tama. Saya bahagia. Saya ga ingin apapun dari hidup saya sekarang berubah. Not even one thing. Tapi kamu juga tahu, rasa itu masih selalu ada. Sakit, kecewa, ga percaya, marah, mengutuki diri sendiri, rindu, maaf, semua terkubur bersama sejuta momen yg ga bisa saya cabut dari kepala saya dan segala tanda tanya yg cuma bisa saya relain keberadaaannya. Semakin lama saya ngejalanin hidup saya, semakin saya sadar kalau Fachri bukan pilihan. He’s the only option for me. Not because I can’t afford to have another, but he just it. He is everything. so yes, I am happy as I am.” Perempuan itu melontarkan kalimat terjujurnya. Lelaki itu tahu, ia ikut bahagia mendengarnya. Tapi.. kenapa karat-karat ini tidak kunjung pudar? Setiap ia memberanikan diri menatap mata perempuan ini, karat-karat di dadanya bagai beradu bergesekan, mengeluarkan bunyi-bunyi aneh yg menyesakkan nafasnya.

“Gini loh.. kamu bisa menjalani hidup kamu dengan gampang karena ga banyak yg berubah. Kamu ngedapetin orang yg kaya saya, tapi lebih baik. Kamu ngejalanin hubungan kamu seperti kamu menjalani hubungan kamu dengan saya dulu, tapi lebih menyenangkan. Ga banyak yg berubah. Buat saya ga gitu. I live a completely different life, have someone completely different than you, and having a relationship like nothing I’ve had with you. In a sense, what I have now is better than I can imagine and is exactly like I’ve always wanted. But it’s different. So it needs a lot more adjusting aside from a lot of¬†cherishing.” Perempuan itu tersenyum. Bukan pada pria di depannya, ia tersenyum karena ia tiba-tiba teringat ejekan Fachri tadi malam. Ia ¬†sangat mensyukuri momen-momen pribadi yg mereka bagi tiap sebelum tidur itu.

Lelaki itu kembali melihat jam. Jam enam kurang lima menit. Ia tahu, ia harus merelakan waktu berlalu lagi, menampik semua permohonannya. “Udah jam enam, Ta. Kamu mau saya anter ke kantor Fachri?” Tanyanya dengan nada kalah. Kalah karena waktu sudah pasti tidak berpihak padanya.

Nope. Ga usah, Tam. Saya bisa sendiri kok. Lagian saya ga mau cari masalah sama nyonya besar, nanti disangkanya saya kegenitan sama kamu. Hih,” jawab perempuan itu santai. “Oh iya, Fachri titip salam. Dia ga suka saya ketemu sama kamu -saya juga ga sih sebenernya- tapi dia ngehargain niat kamu karena udah ngomong langsung ke dia. I won’t say goodbye, but I do hope whatever it is bothering your heart, is done now. Hujan juga ada raatnya, bukan? Hehehe.. Ya sudah, saya jalan ya,” perempuan itu pun tersenyum dan berdiri meninggalkan tempat duduknya. Lelaki itu tersenyum. Ibunya benar, ada hal-hal yg memang tidak akan pernah ada jawabannya. Ia hanya perlu menerima. Apa ini saatnya berhenti mencari dan mulai menerima? Mungkin. Mungkin.. pikirnya.

Advertisements