Sometimes in Between

How can you say you’re not happy with your life? How can you say you always feel something is missing and you live upon so many regrets?

With that happy faces of both of you all over the social media, with all the check ins at hip places, with all of those vacation to all those countries, how can you come to me and say you’re missing something? That must have been the biggest bullshit I’ve heard this year.

Okay, you’re not happy? Good for you then. Better luck next year. But hell, I don’t want to know about it. So pack your unhappy feeling, your something’s-missing-in-my-life, and get the hell out of my sight.

—–

Lelaki itu membaca surat itu berulang-ulang. Hatinya mencelos. Salah. Ia salah. Lagi-lagi ia salah. Serba salah. Apapun yg ia katakan pada perempuan itu pasti salah. Mungkin sudah saatnya ia menyerah. Tapi..

Tapi..

Kembali dihisapnya rokok yg masih menyala di sela-sela jemari tangan kanannya. Rokok itu tinggal setengah. Seperti hatiku, pikirnya dalam hati. Ia lalu tertawa sendiri. Segitu menyedihkan kah kisah cintanya? Bila iya pun itu adalah kesedihan yg dibuatnya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lg yg bisa ia perbuat, bukan? Bukan? Bukan?

Atau.. ada?

Ah sudahlah.

Lelaki itu melipat kembali surat yg entah sudah berapa puluh kali ia baca. Dimasukkannya ke lipatan sebelah kiri paling dalam di dompetnya. Di situ tempatnya. Selalu di situ. Tidak akah pernah hilang. Ah.. andai saja perempuan itu tau.

Rokoknya telah mati. Saatnya beranjak pergi. Renata… Sampai berjumpa lagi. Dalam anganku yg lain lagi. Ia lalu melangkahkan kaki, menuju rumah tempatnya kembali.┬áKe tempat perempuan yg ia sebut istri.

 

Advertisements