Tentang Tidur Melintang

Setelah hampir 8 bulan bareng-bareng, partner hidup saya punya kebiasaan baru: tidur melintang. Rasanya pengen saya timpuk pake bantal dan teriak “yang hamil kan gue nyong, kenapa yg motah situ!” Tapi karena saya istri yg baik, jadi saya dengan manisnya mengikuti polah tidurnya. Dia tidur melintang, saya ikutan tidur melintang. Dia tidur dengan posisi terbalik (kepala di kaki) saya ikutan. Dia tidur dengan posisi diagonal? Saya tindih aja kakinya. Ha!

Serius deh, hal-hal kaya gini tuh ya yg bikin pengen ketawa kalo diinget-inget. Dan entah kenapa kebiasaan ini tiba-tiba aja muncul di usia kehamilan saya yg nyentuh enam bulan. Bawaan bayi kali ya. Ah, tapi kan yg hamil saya, kenapa yg aneh-aneh justru dia :))))

Advertisements

Once upon a time before that..

“Sometime letting go of your past seems like the hardest thing to do, but in reality, accepting your future is harder.”

Perempuan itu melotot. Bibirnya mengerut. Tangannya mengepal menahan marah. Seluruh gerak-geriknya tampak seperti bom waktu yg siap meledak.

“Sembilan belas! Sembilan belas September kamu jadian sama perempuan itu, Tama! Sembilan belas September! Kamu putus sama saya tanggal berapa? Hah? Empat belas, Tama.. EMPAT BELAS! Kamu jadian sama perempuan itu lima hari abis kita putus! Lima. Hari. Semua.. semua kata-kata maaf, kata-kata berharap bisa balikan, semua gombalan itu ternyata memang cuma sebatas gombalan kan?? Ya Allah, Tam.. Ga berenti kamu boongin saya ya? Nyakitin saya? Saya kurang nangis apa sih, Tam? Hah?!” Dan bom itu pun meledak. Beberapa pasang mata di kafe itu mulai melirik ke arah teriakan perempuan itu, tapi ia bergeming. Ia tidak peduli lagi apa yg akan orang-orang itu pikirkan. Ia cuma mau semua rasa sakitnya keluar. Cintanya, perihnya, semua. Keluar pergi bersama setiap naikan oktafnya.

“Kamu tau persis, Tam! Tau persis! Sama saya itu cuma satu, jangan bohong. Kamu mau brengsek? Mau ga cinta sama saya lagi? Man up and say it straight to my face for god damn sake! FUCK!” Teriaknya lagi tak mampu menahan kata-kata yg sudah berbulan-bulan tersimpan di dadanya. Perempuan ini tidak pernah ingin ada kejadian ini. Tidak pernah mimpi berteriak-teriak di tengah tempat umum seperti sekarang. Tapi lelaki di depannya ini tak tahu batas. Ia tiba-tiba meneleponnya di tengah hari bolong dan mengajaknya bertemu. Ada yg belum selesai, katanya. Cih. Jelas saja belum selesai, semua kalimatnya tak lain hanya kebohongan, meninggalkan seribu tanda tanya yg berkarat menjadi borok di hatinya. Dan sekarang lelaki ini hanya bisa menunduk? Menunduk? Oh my

“Ini tuh ga segamblang yg kamu pikirin, Ta. Ga sesederhana it..”

“Ya jelasin! Sederhana, rumit, apapun. Jelasin ke saya! Kamu ga ngerti gimana frustasinya saya ga pernah bisa ngerti kenapa keadaannya jadi begini. Ga pernah ngerti kenapa kamu ngelakuin semua yg kamu lakuin. I just need to understand. I need to understand, Tam.. so I can let go any of this..” perempuan itu pun mulai terisak. Pelan. Tapi sudah cukup untuk membuat tiap sengguknya bagai sayatan di hati lelaki itu. Ia cinta perempuan di depannya ini, cinta. Tidak salah lagi. Walaupun sudah ratusan kali ia meragukan rasanya pada perempuan itu, tiap kali selalu berujung ke kesimpulan yg sama: ia cinta. Rasa cinta itu yg membuatnya berani menekan urutan angka yg sudah ia hapal di luar kepala, berani mengucap sapa yg diakhiri ajakan bersua. Tapi melihat perempuan yg ia cinta menangis karenanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menanggung semua sakit perempuan itu, kalau saja bisa. Tapi bagaimana caranya?

“Renata.. aku..”

“Minta maaf?” Perempuan itu menyelesaikan kalimat yg juga sudah dihapalnya benar.

“Kenapa sih kamu ga pernah ngerti, Tam. Bukan maaf kamu. Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali kamu minta maaf pun ga akan bikin luka saya sembuh.”

“Iya, aku tau.. Saya emang udah brengsek banget sama kamu, Ta.”

“Ga! Sorry. Maksudnya, iya. Kamu brengsek banget. Tapi ga, kamu ga tau apa-apa. Kamu mau maaf? Saya bisa maafin kamu. Bahkan saya cukup yakin kalo saya udah maafin kamu, ga perlu lagi diuji dengan banyaknya permintaan maaf kamu itu. Sekarang bukan itu yg saya butuh, bukan maaf ataupun rasa bersalah kamu. Saya butuh ngerti, Tam. Butuh ngerti.. kenapa kamu bisa bilang kamu cinta, kamu bilang kamu maunya saya, tapi ujungnya semua pilihan kamu ga nunjukin itu sama sekali.. Saya butuh berhenti. Butuh tutup buku dari semua mimpi buruk ini dan mulai nulis cerita baru. Tapi untuk itu, saya butuh semua tanda tanya yg ada di kepala saya ini selesai. Itu pun kamu ga bisa kasih sama saya.”

“Renata.. bukan git.. bukan say.. buk.. argh!” Lelaki itu menggebrak meja yang lagi-lagi membuat semua tatapan orang di kafe itu beralih ke tempat ia dan perempuan itu duduk. Bukan ia tak mau memberi apa yg dicari perempuan ini, ia tak bisa. Karena ia pun tak tahu jawabannya. Tangannya mulai menggaruk-garuk rambut kebanggaannya dengan gusar. Kalau saja bisa, ia juga ingin berteriak saat ini. Tapi beda dengan teriakan perempuan itu, teriakannya tidak akan berbentuk kata. Hanya kumpulan bunyi tanpa arti, yg penting keluar. Keluar bersama rasa sesaknya yg dari tadi ada di dada. Ia ingin membanting gelas, membalikkan meja, lebih gila, ia ingin melempar api ke arah pasangan yg dari tadi bermesraan dua meter di belakang punggung perempuan itu. Ia ingin marah. Tapi tidak mungkin. Ia tahu bahwa perempuan itu lebih butuh pelepasan, bukan pemandangan yg sarat kekerasan. Jadi ia diam saja dan mulai menunduk lagi, pekerjaan yg sepertinya mulai menjadi hobi lelaki itu tiap kali bertemu dengan perempuan di depannya ini.

“Kalau kamu ga bisa ngasih apa yg saya butuhin, kamu mending pulang, Tam.” Katanya masih sambil berisak. Ia tak sanggup menahan tangisnya, sekeras apapun ia mencoba.

“Pulang dan ga usah lagi sok-sok telepon saya bilang ada yg belum selesai. Percuma. Kalau pertemuannya cuma akan seperti ini lagi, sampai kapanpun tidak akan selesai. Kalau mau selesai, caranya cuma satu. Saya cuma harus merelakan untuk selamanya jadi pihak yg tidak mengerti, itu saja.” Lelaki itu masih menunduk. Menatap sepatunya yg ia mulai hapal betul letak setiap miring jahitan ataupun garis kerutannya setelah tak terhitung berapa kali ia menunduk menatapnya hari ini. Ia menimbang- menimbang apa yg paling baik dilakukan saat ini. Pergi? Bertahan duduk di depan perempuan itu tanpa bisa memberikan apa yg dimintanya, dibutuhkannya? Apa?

“Mmh.. saya ga bisa. Saya ga bisa pergi ninggalin kamu dengan keadaan kaya gini.” Katanya reflek. Padahal bukan kata-kata itu yg barusan terancang di otaknya.

“Huh. Kamu udah ninggalin saya dalam keadaan jauh lebih parah dari ini beberapa bulan lalu, Tam. Apa bedanya sama sekarang?” Sindir perempuan itu tajam. Perempuan itu memang selalu lihai dalam menyindir seseorang, menorehkan luka tak kasat mata melalui belati di lidahnya. Lelaki itu pun terdiam.

“Baik.. kalau itu mau kamu, saya akan pergi sekar..”

Oh, fuck it! Ga bisa gitu kamu sekali aja jadi laki-laki dan ambil tanggung jawab sama pilihan kamu? Pergi ya pergi aja, ga usah lagi bawa-bawa ‘kalau itu mau kamu’ seakan-akan itu satu-satunya alasan kamu milih pergi!” Matanya yg bengkak karena menangis sekarang menatap lelaki itu geram. Menantang lelaki itu bersikap selayaknya pejantan, untuk terakhir ini saja. Lelaki itu menunduk lagi, menghembuskan napas panjang, dan mengangkat kepalanya menatap perempuan itu.

“Oke. Saya pergi ya. Saya berdoa supaya kamu bisa nemuin orang yg bisa bahagiain kamu lebih dari apapun. Ga kayak saya yg kerjanya cuma nyakitin kamu. Saya bener-bener minta maaf, Ta. Asal kamu tau, piala itu -piala yg aku kasih ke kamu dulu, itu masih kamu orangnya, Ta. Have a wonderful life, Renata..” Lelaki itu berdiri dari sovanya dan melangkah ke arah pintu keluar, perempuan itu melirik sekilas ke arah punggungnya. Sedetik. Lalu ia melanjutkan isaknya. Membiarkan air matanya sekali lagi menyelimuti lukanya. Biar saja, satu hari lagi saja. Karena besok ia akan kembali membusungkan dadanya, menaikkan dagunya, siap menerjang apapun yg diberikan hidup padanya. Tapi hari ini, ia hanya ingin menangis sepuasnya.

Believe.

Tadi malam KPK didatengin beberapa polisi, provost, dll. Kaum menengah Indonesia bergerak. Dimulai dari beberapa wartawan yg berkicau di twitter sampai akhirnya jadi viral. Yg bantu juga macem-macem. Dari yg ikutan gabung untuk buat pagar manusia, kasih info kebutuhan mereka yg di sana (cth: air minum), dan penggerak massa lewat twitter dengan cara RT.

Orang-orang yg biasanya ga pernah keliatan masih melek sampai dini hari sampe ikutan mantengin twitter dan berita. Beramai-ramai mengejek ketika Polri mulai konfrensi pers dengan amat tidak yakin dan bersorak setiap bukti-bukti kebodohan dan kebejatan polisi mulai terkuak.

Lalu apa artinya?

Buat anda? Tidak tau. Tapi buat saya jelas. Artinya kita perlu semakin banyak orang untuk percaya akan sesuatu, apapun. Kebenaran, kebaikan, politik bersih, kemakmuran, apapun. Gerakan tadi malam bisa ada karena banyak orang yg percaya kalo KPK itu benar dan kebenaran patut dibela. Keberpihakan untuk sesuatu yg benar -setidaknya bagi mereka. Dan dari percaya itu, keluarlah perjuangan.

Pilih dengan akal sehat apa yg akan anda percaya, lalu berpihaklah, dan perjuangkan dengan hati. Buat saya hidup tanpa percaya apa-apa itu rugi. Dan hidup dengan menggantungkan rasa percaya pada suatu yg semu seperti uang, rasanya tambah rugi lagi.

The Taboo ‘A’

Nama gue Mela. Di umur gue yg ke dua puluh lima, gue ngelakuin aborsi.

Buat gue, perempuan lahir tanpa dikasih pilihan. Bukan, bukan pilihan untuk lahir atau ga. untuk itu semua sama di mata Tuhan. Semua lahir atas kehendakNya. Maksud gue adalah “kodrat”. Perempuan punya beban “kodrat” yg lebih saklek dari laki-laki.

Contohnya gue. Gue ga pernah ditanya apa gue mau punya anak apa ga suatu hari. Just because I have the props, that doesn’t mean I’m going to use it, buds.. Bukan berarti gue ga mau punya anak, tapi gue pikir gue berhak untuk mutusin akan punya anak apa ga.

Jadi karena itu lo mutusin ngelakuin aborsi, mel?
No! Bukan itu. Walaupun gue ngerasa peradaban kita juga ga adil sama perempuan soal aborsi, tapi bukan karena itu alesannya.

Ga adil?
Hell yeah. Emang lo pernah denger laki-laki dibilang dosa besar karena ninggalin pasangannya yg lagi hamil? Salah, iya. Bangsat, iya. Tapi dosa besar sampai dilaknat Tuhan? Kayanya ga ya. Pernah laki-laki dibilang ngebunuh nyawa orang karena dia bilang ga punya pilihan dan nyuruh pasangannya aborsi? Ga juga kayanya ya. Aborsi itu, dalam pikiran hanpir semua orang, adalah salah si ibu. Tanggung jawab si ibu. Padahal yg bikin hamil kan sperma, telur cuma diem duduk anteng.

Umh.. Mel.. back to the Why’s..
Oh, sorry. Yes. Balik ke kenapa. Simple. Laki gue ga mau nikahin gue. Klise ya? Kayanya lemah banget gitu. Tapi apa lo tau apa efeknya bagi perempuan yg ngelahirin anak tanpa bapak? Tau penderitaan yg harus dia laluin?

Bodoh dan terlambat sih, tapi gue mau anak gue lahir dengan keadaan dicintai dan ditunggu seluruh keluarganya. Bukan disambut dengan senang campur depresi dan a little bit of regrets. Gue mau dia punya bapa yg sayang sama dia. Bukan yg dari awal udah nolak keberadaannya dan malah asik-asikan sama perempuan lain.

Tapi lo tau kan mel kalo yg lo lakuin salah?
Tau. Tapi buat gue, at least gue nentuin pilihan dan gue bertanggung jawab penuh atas pilihan itu. Gue kok yg harus hidup dengan akibat dari keputusan gue. Bukan orang. Orang gampang aja bilang dosa, kan bukan mereka yg akan ngejalanin. Bukan mereka yg akan ngerasa sakit hati karena anaklo diomongin ga enak sama orang. Bukan mereka yg harus ngeliat tatapan sedih nyokaplo karena liat hidup anaknya. Bukan mereka, tapi gue.

Ok. Ada penyataan terakhir?
Gue cerita gini bukan untuk ngebela diri. Salah bener bukan tujuan gue. Gue cuma mau orang buka mata, bahwa kasus aborsi itu bukan item putih. Semua pihak punya jawaban apa yg terbaik menurut dia. Itu aja.

So here it is. Nama gue Mela. Umur gue 25 tahun. Dan di umur gue yg ke duapuluh lima ini, gue ngelakuin aborsi.

December

Him: How do you like your coffee?
Me: Cold and creamy.
Him: How do you like your December?
Me: With you in it.

What a December to you? To me a December means.. a way too much time of self-loathing. December always means a last step to a new beginning, for it means a new year is about to come. December also means a family month, for it’s a christmast month. And while I’m not celebrating it religously, I still like the perks that come with it. A bunch of family movies, a holiday, a very cheerful malls. Truth be told, Ramadan didn’t quite bring that upbeat effect to malls. So, either way, an upcoming new year or a family month, December is upsetting because I don’t really have either of it.

My family lives in New York right now. My step father got a job there as a manager of something something (busted, I didn’t really paid attention to it) months ago so they’ve been living a new life there for almost 3 months now. Since I too got a job here -2 effing years contract for god sake!- so that means I’d be the one who stayed behind. I practically have no family right now, not the one that lives nearby at least.

For the new year thing… Well, it sucks because new year always brings this some sort of burden to my thoughts. You know, those contemplation thing? Yeah, I take it very seriously in this time of year. I hate my job, I don’t thing it’s going anywhere nor it will for the next two years. I live on a rented room that us Indonesian called ‘kost’. In reality it looks more like a very small storeroom rather than an actual room. My so-called-room consist only of one single bed-with no frame,of course- one small cabinet, one small desk, and a 14″ tv. My parents live in New York and I live in this rat hole, quite an ironic don’t you think?

Okay, back to where I hate new year. I’m hitting 30 next year. I know, I know, you may say that age is just a number, well let me tell you something, B.S. period. My friends are now living their life with their lovely kids, lovely husband, a steady job, and whatnot while mine filled with crappy job, crappy place, and a very crappy ex-boyfriend -yes, ex. Sadly, I don’t even have a crappy boyfriend. Only an ex. I know my birthday is still almost a year away but the very thought of turning 30 in this kind of life freaks me out. A lot. So every day closer to 2012 is a pain in the neck for me. A reminder how sucks my life is. I ha…
‘Hey, I’m sorry, is this your book?’ said a man who just poked my shoulder. I was going to give him my scarriest face for interrupting the monologue in my head, when suddenly our eyes met.
~~

Him: I still think you are the funniest woman I ever known.
Me: And I still think you’re a cassanova with the worst jokes. You sucks real bad, mate.
Him: But you still love me?
Me: Yes. But I still love you.

Cheesy. Cliche. Really you can say whatever you want, but when our eyes met I felt a connection and I knew he felt it too. After we introduced each other, I got to know that he worked in a food company in south Jakarta, the one who produces the famous noodle in Indonesia. He’s 9 months younger than me and he has a smile you can’t easily forget. We hit on pretty much seamlessly, it’s as if we trully were meant for each other.

The family part was kinda tricky since my parents were thousands of miles away and his on a different city to where we lived. With a lot of efforts and a little technology, somehow we can settle the problem really well. My mother loves him. They’re Skype-ing every now and then, even when I wasn’t there. A somewhat miracle since she used to hate all the things regarding technology.

He’s some sort of a family man. His father died years ago and the older brother had long lived in Australia with his wife, so for years it’d been just the two of them, he and his mother. And even now they live in a different city and she already lives with her sister, he keeps visiting her almost every week. I met her two months after that fallen book incident. His mother is a standard-happy-family type of mother. Nice, sincere, religious, and very motherly. It’s hard not to like her. Miraculously, his mother seems to like me too.

One year nine months and sixteen days after we first met, on the same month I turned 31, we declared our love rightfully, under the name marriage. It’s been two months now and November is about to end. This year, I welcome December with a big grin on my face. I love my life. I have a decent house -small but decent- just outside the city, I’ve been promoted to a much less crappy position in the advertising company I worked -project effing manager, yay!- and I love my husband. I’m in a place where I never think I would two years ago. Finally I’m living the life I always wanted. I’m happy and I can’t wait to experience what life will bring next year. I had my life laid ahead of me. I lov…
“Oh.. Yess. Come on baby, do that again. Harder! Aaaaahhh” an erotic sound vaguely heard from the main room when I entered my house.
“Honey, is that you? Really, you have to stop watching those x-rated movies while I’m away. And what’s with the volum..” I froze. The sound didn’t come out of the movie. Not at all. It was as real as it can be.
~~

to be continued…