List, List, List

Since this month is the last month of this year, to celebrate it like everyone else I’ll start to make a list. A booklist. This year’s booklist and next year’s.

Last year I don’t really have any target or any particular titles to read for 2013, my target was only to read 12 English books (quite pessimistic, I know) and I’ve succeed. Yay! This is the list:

[X] White Cat by Holly Black
[X] Red Gloves by Holly Black
[X] Black Heart by Holly Black
[X] The Lover’s Dictionary by David Levithan
[X] Perfect Chemistry by Simone Elkeles
[X] Destined by P.C. Cast & Kristin Cast
[X] Hidden by P.C. Cast & Kristin Cast
[X] Inferno by Dan Brown
[X] Anatomy of a Single Girl by Daria Snadowsky
[X] The Average American Marriage by Chad Kultgen
[X] The Fault in Our Stars by John Green
[X] City of Bones by Cassandra Clare
[X] City of Ashes by Cassandra Clare
[X] City of Glass by Cassandra Clare
[X] City of Fallen Angel by Cassandra Clare
[X] Bared to you by Silvia Day
[X] Reflected in You by Silvia Day

Yup, pretty much common books because to be honest I don’t really enjoy non-fiction or any heavy reading. That’s why for 2014, I’ll challenge myself to read a little out of my comfort zone. I got the list from Goodreads Best Books of 2013. There are total 20 books, but since I’ve already read Inferno so I made a little change to it and replace Inferno with The Cuckoo’s Calling by Robert Galbraith.

This is the list: http://www.goodreads.com/choiceawards/best-books-2013

So, will I cross every title for this list? Let’s see next year 😉

Advertisements

Yes. The Cover Does Matter.

Just read my sophisticated (in a very good way) cousin’s blog and just realized that she is a book blogger (is that how you say it?). I know she has this envious passion with reading since I already follow her twitter for some time, but I didn’t know how book freak (once again, in a very good way) she was. That sure explain all the book reviews she’s been posting all along.

Being a book freak she is, she has several books-to-read list -including those followed by book challenge- for a year alone. And swear to god, I want to hide my books-read-this-year list after seeing her number :’)

So, after feeling pity for myself and my book list, I tried to reassess the way I build my reading list so far. Usually I went to my favorite bookstore Periplus every now and then, and made a note of books that got me interested. I got home and I searched the ebook in the internet, both free and paid (yes, I often read books for free, sue me!). I put it on my reading devices (my phone and Nook) and when I felt I need a new reading, I opened my phone -or Nook- and picked a random book. I usually picked it by the author or if I was bored, by the cover. So yes. Guilty as I am, I’m one of those people who still ‘judgje’ a book by it’s cover.

This is how I choose my book:

1. Personal experiences/known author

2. Friends/family/favorite writers suggestion

3. Best sellers or award winning

4. Interesting book cover

See? Yes, the cover is not the first on my list -hopefully not the first either of anyone’s list- but it’s there, haunting at the number four. I dare to bet that it will also be somewhere in a reader’s -avid or not- list. Therefore, saying don’t judge a book by it’s cover is exactly the same as saying don’t judge someone by their looks. Almost impossible. It may not be the number one thought, but it will still be there. No matter how you sugarcoated it.

Tentang Tidur Melintang

Setelah hampir 8 bulan bareng-bareng, partner hidup saya punya kebiasaan baru: tidur melintang. Rasanya pengen saya timpuk pake bantal dan teriak “yang hamil kan gue nyong, kenapa yg motah situ!” Tapi karena saya istri yg baik, jadi saya dengan manisnya mengikuti polah tidurnya. Dia tidur melintang, saya ikutan tidur melintang. Dia tidur dengan posisi terbalik (kepala di kaki) saya ikutan. Dia tidur dengan posisi diagonal? Saya tindih aja kakinya. Ha!

Serius deh, hal-hal kaya gini tuh ya yg bikin pengen ketawa kalo diinget-inget. Dan entah kenapa kebiasaan ini tiba-tiba aja muncul di usia kehamilan saya yg nyentuh enam bulan. Bawaan bayi kali ya. Ah, tapi kan yg hamil saya, kenapa yg aneh-aneh justru dia :))))

Your Job is Not Your Career; let alone your gender and yourself.

Siang ini emosi ibu hamil gue keusik gara-gara lihat post seorang teman di Path. Post itu menyuarakan penolakan atas ajang Miss World yg sekarang sedang berlangsung di Bali. Sebelum lanjut ke persoalan kenapa gue merasa keganggu banget oleh post tersebut, gue mau ngelurusin beberapa hal. Satu, gue tidak mendukung ajang-ajang kecantikan manapun, termasuk Miss World. Dua, gue bukan kesel sama teman gue, tapi lebih ke isi post dan the fact that it’s been spread out so carelessly.

Dalam post tersebut dibilang kalau Miss World itu harusnya diuji urusan masak, nyuci, nyapu, ngepel, nyikat WC, bersihin kotoran bayi, mendiamkan bayi yg nangis, menapih beras, dan melayani suami karena itu baru namanya perempuan sejati. Lalu ada tambahan, kalau cuma foto, bergaya, centil, memamerkan badan, senyum, dan melambaikan tangan, topeng monyet juga bisa (beserta beberapa foto topeng monyet).

Di sini gue ga akan ngebahas part ke dua yg menyinggung kontes Miss World saat ini, bukan itu fokusnya. Gue mau menyinggung bagian pertama yg ceritanya menggambarkan ‘ciri’ seorang perempuan sejati.

Gue emosi baca post tersebut masih ada aja yg sembarangan mengasosiasikan pekerjaan rumah tangga sebagai ciri dari perempuan sejati. WTF?

Bukan urusan gue ga mau melakukan semua pekerjaan rumah tangga itu –which by the way I gladly accepted it as part of my job now– atau gue protes kalau perempuan itu harus punya karir yg sama dengan laki-laki bla bla bla. Bukan. Cuma gue ga bisa terima sama orang yg masih berpikiran kalau pekerjaan yg lo lakuin sehari-hari adalah identitas diri lo, lebih spesifiknya lagi, gender lo. Perempuan itu manusia, sama seperti laki-laki. Perempuan punya hak memilih apa yg ingin mereka lakukan dalam hidup. Perempuan, lagi-lagi sama seperti laki-laki, juga punya kewajiban untuk mengembangkan diri menjadi manusia seutuhnya.

Misalnya gue deh. Laki gue kerja kantoran, pergi pagi pulangnya malem. Dia juga pencari nafkah utama dalam keluarga gue. Saat ini gue memilih hanya kerja sampingan, yg setiap minggunya mengambil 6 – 12 jam waktu hidup gue. Logikanya jelas, pekerjaan rumah tangga ya adalah bagian dari tugas gue. Ngurusin makan suami –yg tidak selalu gue yg masak sendiri- juga urusan gue. Gimana ga? Laki gue cape bok dari pagi sampe malem kerja untuk kita berdua, masa iya pulang gue tega ngebiarin gitu aja. Itu orang yg gue sayang banget dan menurut negara sah sebagai tanggung jawab gue loh.

Kalau misalnya nanti kebutuhan gue atau keluarga gue berubah dan gue punya kerjaan kantoran yg menyita waktu gue 40-50 jam per-minggunya, ya solusi untuk keluarga gue jg mungkin akan berubah. Entah itu gue cari pembantu atau bahu-membahu sama suami untuk urusan pekerjaan rumah tangga, atau apapun itu yg sesuai dengan kebutuhan pada saat tersebut.

Intinya, kalaupun nanti gue tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumah, hal itu ga terus membuat gue jadi perempuan yg tidak sejati. Karena hal-hal tersebut adalah hanya bagian dari apa yg gue kerjain dan bukan hal yg membentuk diri gue, apalagi mendefinisikan diri gue sebagai seorang perempuan. Manusia (mau laki atau perempuan) itu intinya mengembangkan diri, supaya berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Peran yg kita ambil untuk menjadikan diri kita berguna ya itu pilihan masing-masing orang.  Jadi kesejatian gue sebagai seorang perempuan dan manusia bukan lagi soal ngelahirin anak, nyuci, ngepel, jadi pengusaha atau kerja kantoran karena itu semua cuma sesuatu yg kita kerjakan untuk memenuhi kebutuhan.

Balik lagi ke post tersebut, I know that it was meant to be a joke. Tapi miris rasanya denger orang sembarangan ngomong dan gampang aja nyebarin pikiran-pikiran yg selama ini berusaha dilawan oleh sebagian besar kaum perempuan.

After all, I bet no men would be happy if the world think the best way to define a real man is how good they are at being an ATM machine for their wife. Because trust me, if that’s the case, more than 70% of the men will not pass the test.

(Your Job is Not Your Career is the slogan of @ReneeCC, career motivator)

The (un)conditional love

Just today I heard a friend said ‘but I love him..’ Without any intention to discredited my friend, suddenly I remembered all the similar scenes that have happened between us. I gave her reasoning, she answered with ‘but I love him..’ Somehow, this ‘but I love you’ scenes makes me wonder. I start counting how many of that ‘I love you’s that can still be claimed true until this second. I don’t know her answer, but with the exception of this recent case, I think the answer is none.

So what does that make of her? Or more, of love?

I used to believe that real love is something irrevocable. Something immortal. Something that can last forever. So if you wake up one day and realize that you don’t love someone, it means that it was never really love. You just thought it is. But is it really true?

We all heard a saying that the closest one a human can love uncondititionally is the love to her (and maybe his) children. But I never imagined that the ‘condition’ is as plain as good or bad: I love you as long as you’re good to and for me. I mean, I always thought that love is blind and love is the purest form of emotion because it exists without any calculation of logical thinking. The phrase like ‘I know he’s a jerk, but I love him still’ is very love-ish. If you end up leaving that person, it is not because you stop loving them, you just start to think rationally. That’s why the promise in marriage is ‘to love you forever, in sickness and in health, bla bla bla’ NOT ‘I will stay with you forever, bla bla bla’. Because unconciously people believe that love can be forever, but not with the relationship.

But then again is that really?

My point is, no one is that perfect. One way or another, you’ll get hurt, you’ll be dissapointed. So if love is not that strong and not that irrevocable, then why should we make big decisions in our life based on or because of love?

 

H + 11

After such a hectic-and-full-of-shouting month preparing our wedding, I can now say that I am my partner’s wife. Sebagai penganten baru, pertanyaan yg paling sering dilontarkan pada saya akhir-akhir ini adalah: “Gimana rasanya punya suami?” atau “Gimana rasanya nikah?”

To be really honest, aside from the sex, nothing really changed. At least not between the two of us. Yg berubah sih banyak secara sekarang saya sudah ga tinggal sama ibu. Dari mulai ga ada ngerengek laper atau rebutan bermanja-manjaan ke ibu dengan tiga adik saya yg lain, sampe kegiatan nyuci baju dan nyetrika pakaian saya dan suami (adeuh euy.. suami nih ye..). Tapi di luar itu semua, hubungan saya dan dia hampir ga ada yg berubah.

Dulu di suatu obrolan pagi buta antara saya dan seorang sahabat tentang pernikahan, kita membahas bahwa pernikahan ga akan tiba-tiba mengubah seseorang. Ga akan ada sulap atau sihir yg sekonyong-konyong mengubah suatu hubungan sesaat setelah mereka menandatangan surat nikah –atau saat sama-sama bilang ‘I do’. Jadi kayanya emang mimpi banget kalo ada orang yg masuk ke sebuah pernikahan dengan berpikir pasangannya akan berubah kalau nanti sudah ada suami/istri. Apa yg kamu hadapi pas pacaran, ya kurang lebih itu juga yg akan kamu hadapi pas nikah. Keadaan, kehidupan dan nasib bisa berubah tapi sifat dasar orang ga. So the whys, the hows, and the whats were never matter. What matters the most is ‘who’, and I’m so glad the ‘who’ is you J

Omong-omong, saya teringat omongan seorang sahabat tentang ‘buka dua mata saat pacaran, tutup sebelah mata saat udah nikah’. Ternyata terasa banget benarnya. Dari dua minggu kurang saya jd istri orang ini aja saya sadar banyak banget hal-hal remeh yg bisa diributin kalo saya masih keukeuh sensi-an. Untungnya saya memilih untuk tidak. Kalau dulu dengan sedikit sindiran aja saya bisa membentak balik dengan emosi, sekarang sih ketawain aja. Ternyata hidup jadi jauh lebih mudah. Ga kebayang deh kalo yg prinsip hidupnya kebalikan, pas pacaran apa-apa terima dan pas nikah malah ga terima karena ekspektasi pribadi yg mendambakan ‘perubahan’ dari pasangannya itu. Bisa gempar dunia persilatan pernikahan.

Tapi ya.. baru juga dua minggu. Kalo meminjam istilah Ninit Yunita mah: bawangnya masih banyak, nda.. J))

Once upon a time after that..

Lelaki itu melirik jam tangannya. Bukan, bukan karena ia ingin buru-buru pergi dari tempat itu. Ia tahu, perempuan di depannya hanya punya waktu sampai jam enam dan masih terlalu banyak hal yg ingin ia bicarakan pada perempuan itu. Ia berharap jarum jamnya berhenti. Semua tanggung jawabnya, jalan hidup yg ia pilih, cerita-cerita yg mengitari sejarah ia dan perempuan itu berhenti. Hanya ia dan perempuan itu, di momen ini, berhenti. Agar ia dapat melumat tatapan perempuan itu lekat-lekat. Pelan-pelan. Menikmati setiap komunikasi non-verbal yg berdansa di antara mereka.

“Kamu ngedapetin perempuan yg kaya saya. Lebih tua dari kamu yg otomatis lebih bisa ngurus kamu, agak asal yg otomatis bisa kamu ajak bercanda sesilly apapun, bisa kamu tanyain pendapatnya, plus dengan kelebihan-kelebihan yg tidak saya miliki. Bukannya itu yg selalu kamu pengenin? Berarti sudah tercapai toh? Apa perlu saya nyanyi bait pertama Someone Like You-nya Adele untuk memperjelas situasinya?”

“Ghehehe.. kamu bisa aja, Ta. Dia.. oke. Saya akuin, ada beberapa hal dari dia yg ngingetin saya sama kamu. Tapi.. ya.. ga ko. Kamu bukan dia.”

“Ya iya lah saya bukan dia. Kalo saya dia mungkin kamu milihnya saya. Gitu maksud kamu? Hih. Masih aja egomaniak, Tam.”

“Ampun, Ta.. Kenapa sih kamu selalu aja nganggepnya yg jelek-jelek aja ke saya? Kayanya apa aja yg keluar dari mulut saya tuh jelek semua. Kamu juga tau lah, bukan itu maksud saya!” Balasnya seraya frustasi. Frustasi. Satu kata yg paling tepat menggambarkan reaksi yg kerap kali muncul tiap ia berhadapan dengan perempuan ini. Perempuan ini selembut air yg menyejukkan di siang hari, tapi juga sekeras batu. “Ga semua hal itu kaya bilangan biner. Ga selalu salah bener.”

“Bilangan biner? Salah bener? Haloo… bumi memanggil Tama, harap tolong alien di depan saya dituker dengan Tama yg asli. Sejak kapan kamu mikirin hal-hal kaya gitu? Bukannya buat kamu semua selalu item-putih? Semua sederhana. Ga perawan = murahan. Agama islam = bener. Yg lain = salah. Begitu bukan?” Lelaki itu ingin menepuk kepalanya sendiri. Waktu mereka hanya sedikit, ia tidak ingin waktu itu habis hanya untuk obrolan absurd begini. Ia ingin.. ia ingin.. ia termenung. Apa ya yg sebenernya ia ingin? Ia juga tahu kalau pertemuan ini tidak akan membuatnya lega sedikitpun. Yg ada mungkin hanya menambah karat di dalam dadanya. Tapi ia dengan bodohnya, nekat melakukannya lagi dan lagi. Sakit. Mungkin ia sakit. Tidak, jawabnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya. Bukan ia yg sakit, perempuan di depannya yg sakit. Karena masuk akal buatnya untuk ingin menemui perempuan ini lagi dan lagi, tapi buat perempuan ini? Perempuan ini pasti sangat sakit untuk mau menemuinya lagi. Atau terlalu baik. Atau.. cinta? Mungkinkah perempuan ini masih menyisakan cinta untuknya? Ia menatap mata perempuan itu.

“Renata, kamu bahagia?” Perempuan itu diam seraya menatapnya. Diam. Satu.. dua.. lima detik berlalu. Perempuan itu pun menghela napasnya.

“Iya, Tama. Saya bahagia. Saya ga ingin apapun dari hidup saya sekarang berubah. Not even one thing. Tapi kamu juga tahu, rasa itu masih selalu ada. Sakit, kecewa, ga percaya, marah, mengutuki diri sendiri, rindu, maaf, semua terkubur bersama sejuta momen yg ga bisa saya cabut dari kepala saya dan segala tanda tanya yg cuma bisa saya relain keberadaaannya. Semakin lama saya ngejalanin hidup saya, semakin saya sadar kalau Fachri bukan pilihan. He’s the only option for me. Not because I can’t afford to have another, but he just it. He is everything. so yes, I am happy as I am.” Perempuan itu melontarkan kalimat terjujurnya. Lelaki itu tahu, ia ikut bahagia mendengarnya. Tapi.. kenapa karat-karat ini tidak kunjung pudar? Setiap ia memberanikan diri menatap mata perempuan ini, karat-karat di dadanya bagai beradu bergesekan, mengeluarkan bunyi-bunyi aneh yg menyesakkan nafasnya.

“Gini loh.. kamu bisa menjalani hidup kamu dengan gampang karena ga banyak yg berubah. Kamu ngedapetin orang yg kaya saya, tapi lebih baik. Kamu ngejalanin hubungan kamu seperti kamu menjalani hubungan kamu dengan saya dulu, tapi lebih menyenangkan. Ga banyak yg berubah. Buat saya ga gitu. I live a completely different life, have someone completely different than you, and having a relationship like nothing I’ve had with you. In a sense, what I have now is better than I can imagine and is exactly like I’ve always wanted. But it’s different. So it needs a lot more adjusting aside from a lot of cherishing.” Perempuan itu tersenyum. Bukan pada pria di depannya, ia tersenyum karena ia tiba-tiba teringat ejekan Fachri tadi malam. Ia  sangat mensyukuri momen-momen pribadi yg mereka bagi tiap sebelum tidur itu.

Lelaki itu kembali melihat jam. Jam enam kurang lima menit. Ia tahu, ia harus merelakan waktu berlalu lagi, menampik semua permohonannya. “Udah jam enam, Ta. Kamu mau saya anter ke kantor Fachri?” Tanyanya dengan nada kalah. Kalah karena waktu sudah pasti tidak berpihak padanya.

Nope. Ga usah, Tam. Saya bisa sendiri kok. Lagian saya ga mau cari masalah sama nyonya besar, nanti disangkanya saya kegenitan sama kamu. Hih,” jawab perempuan itu santai. “Oh iya, Fachri titip salam. Dia ga suka saya ketemu sama kamu -saya juga ga sih sebenernya- tapi dia ngehargain niat kamu karena udah ngomong langsung ke dia. I won’t say goodbye, but I do hope whatever it is bothering your heart, is done now. Hujan juga ada raatnya, bukan? Hehehe.. Ya sudah, saya jalan ya,” perempuan itu pun tersenyum dan berdiri meninggalkan tempat duduknya. Lelaki itu tersenyum. Ibunya benar, ada hal-hal yg memang tidak akan pernah ada jawabannya. Ia hanya perlu menerima. Apa ini saatnya berhenti mencari dan mulai menerima? Mungkin. Mungkin.. pikirnya.