Fireworks

If I have to picture a firework in my life, I would definitely say: you.

I was a playboy before I met you, have alwasy been. I fell in love too easily and too recklessly and I’ve always thought it was because I’m a passionate person. I was wrong. In facf, I never knew what passion is really like before you, I just thought I do. I’ve loved before. Hard. With you, it went straight to crash and burn.

I was a teenage boy, of course sex is the main thing in my head back then. I’ve also experimented a lot and I won’t try to deny it. But with you… With you.. it’s just different. It’s TNT and C4 combined. I was curious about sex before you, with you it’s plainly instinct. It was like I’m a male lion in mating season. I didn’t think at all, what I know was that I had to have you. So when you finally let me in, it was fuckin fireworks everywhere.

And it’s not just sex. It’s not just about my penis finding ways to your vagina. It’s about the urges. The urgency that I had to have you right there and there. I had to make you mine because I can’t bare myself not to. You’re like the the most powerful addiction I’ll ever had.

So I was stupid to let you go. I was young and stupid. I made series of bad decisions and I hurt you. I wish I didn’t. I wish I’d stayed even when you said you wanted me to leave. Even when you hated me with all your life, I should’ve stayed. With you. Beside you. I should’ve just stubbornly being there for you no matter how bitter it would be for me. Because you worth it. 

You’re my fireworks, the main chapter of my life I should’ve never ended. I’m sorry that I did.

#him

An. Image. A screenshot that is. That’s all I got as a reply. So.. should I read between the lines or those capital letters already answered it all?

Okay, I’ve made a mistake. Two mistakes. One, I slept with another girl. Two, I slept with that girl’s sister. At the same time. So it was kind of two mistakes at once you know. Should I count it as one? Damn, I got a boner just thinking about it.

But I mean, come on. It’s a fucking once in a lifetime experience right? It was for me at least. I didn’t say I didn’t regret it with all my heart that I hurt her but I can’t say I wish it never happened either because it would be a bunch of bullshits. To top it all, we were on a break. The break that she insisted. So it’s classic “we were on a break” thing.

So what now? Should I quit then? Quit bothering her and just move on? Or this is just another game of “catch me if you can”? Was that a “try harder” shout? Or an “I’m sorry, I’ve moved on long ago”? What woman? What??

Rrgh. I really don’t understand women.

Prologue

“Everyday. Everysinglefuckingday.”

That is the answer of ‘how often do you think of me these days’ question. There hasn’t been a day passed that the thought of you, how insignificant it might be, failed to cross my mind. There… now you know the truth, so what’s you’re going to do about it now?

Great. I’m doomed. Why was I ask the question again? Oh yes, of course, my cute little fingers just acted on their own will. They’ve decided to sent the biggest question of this century of my life out of my consent. It must be my subconscious, is it? I mean, two bottles of beer shouldn’t be that dangerous. Or so I thought. Or maybe I was already itching to ask it all this long and just finally had a reason to sent it: I was drunk. Well, for whatever reason, it’s out. The question came out and now I’ve got the answer. Now I got to answer back. That’s why I’m doomed. How am I supposed to answer that?

 

 

Sometimes in Between

How can you say you’re not happy with your life? How can you say you always feel something is missing and you live upon so many regrets?

With that happy faces of both of you all over the social media, with all the check ins at hip places, with all of those vacation to all those countries, how can you come to me and say you’re missing something? That must have been the biggest bullshit I’ve heard this year.

Okay, you’re not happy? Good for you then. Better luck next year. But hell, I don’t want to know about it. So pack your unhappy feeling, your something’s-missing-in-my-life, and get the hell out of my sight.

—–

Lelaki itu membaca surat itu berulang-ulang. Hatinya mencelos. Salah. Ia salah. Lagi-lagi ia salah. Serba salah. Apapun yg ia katakan pada perempuan itu pasti salah. Mungkin sudah saatnya ia menyerah. Tapi..

Tapi..

Kembali dihisapnya rokok yg masih menyala di sela-sela jemari tangan kanannya. Rokok itu tinggal setengah. Seperti hatiku, pikirnya dalam hati. Ia lalu tertawa sendiri. Segitu menyedihkan kah kisah cintanya? Bila iya pun itu adalah kesedihan yg dibuatnya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lg yg bisa ia perbuat, bukan? Bukan? Bukan?

Atau.. ada?

Ah sudahlah.

Lelaki itu melipat kembali surat yg entah sudah berapa puluh kali ia baca. Dimasukkannya ke lipatan sebelah kiri paling dalam di dompetnya. Di situ tempatnya. Selalu di situ. Tidak akah pernah hilang. Ah.. andai saja perempuan itu tau.

Rokoknya telah mati. Saatnya beranjak pergi. Renata… Sampai berjumpa lagi. Dalam anganku yg lain lagi. Ia lalu melangkahkan kaki, menuju rumah tempatnya kembali. Ke tempat perempuan yg ia sebut istri.

 

Once upon a time after that..

Lelaki itu melirik jam tangannya. Bukan, bukan karena ia ingin buru-buru pergi dari tempat itu. Ia tahu, perempuan di depannya hanya punya waktu sampai jam enam dan masih terlalu banyak hal yg ingin ia bicarakan pada perempuan itu. Ia berharap jarum jamnya berhenti. Semua tanggung jawabnya, jalan hidup yg ia pilih, cerita-cerita yg mengitari sejarah ia dan perempuan itu berhenti. Hanya ia dan perempuan itu, di momen ini, berhenti. Agar ia dapat melumat tatapan perempuan itu lekat-lekat. Pelan-pelan. Menikmati setiap komunikasi non-verbal yg berdansa di antara mereka.

“Kamu ngedapetin perempuan yg kaya saya. Lebih tua dari kamu yg otomatis lebih bisa ngurus kamu, agak asal yg otomatis bisa kamu ajak bercanda sesilly apapun, bisa kamu tanyain pendapatnya, plus dengan kelebihan-kelebihan yg tidak saya miliki. Bukannya itu yg selalu kamu pengenin? Berarti sudah tercapai toh? Apa perlu saya nyanyi bait pertama Someone Like You-nya Adele untuk memperjelas situasinya?”

“Ghehehe.. kamu bisa aja, Ta. Dia.. oke. Saya akuin, ada beberapa hal dari dia yg ngingetin saya sama kamu. Tapi.. ya.. ga ko. Kamu bukan dia.”

“Ya iya lah saya bukan dia. Kalo saya dia mungkin kamu milihnya saya. Gitu maksud kamu? Hih. Masih aja egomaniak, Tam.”

“Ampun, Ta.. Kenapa sih kamu selalu aja nganggepnya yg jelek-jelek aja ke saya? Kayanya apa aja yg keluar dari mulut saya tuh jelek semua. Kamu juga tau lah, bukan itu maksud saya!” Balasnya seraya frustasi. Frustasi. Satu kata yg paling tepat menggambarkan reaksi yg kerap kali muncul tiap ia berhadapan dengan perempuan ini. Perempuan ini selembut air yg menyejukkan di siang hari, tapi juga sekeras batu. “Ga semua hal itu kaya bilangan biner. Ga selalu salah bener.”

“Bilangan biner? Salah bener? Haloo… bumi memanggil Tama, harap tolong alien di depan saya dituker dengan Tama yg asli. Sejak kapan kamu mikirin hal-hal kaya gitu? Bukannya buat kamu semua selalu item-putih? Semua sederhana. Ga perawan = murahan. Agama islam = bener. Yg lain = salah. Begitu bukan?” Lelaki itu ingin menepuk kepalanya sendiri. Waktu mereka hanya sedikit, ia tidak ingin waktu itu habis hanya untuk obrolan absurd begini. Ia ingin.. ia ingin.. ia termenung. Apa ya yg sebenernya ia ingin? Ia juga tahu kalau pertemuan ini tidak akan membuatnya lega sedikitpun. Yg ada mungkin hanya menambah karat di dalam dadanya. Tapi ia dengan bodohnya, nekat melakukannya lagi dan lagi. Sakit. Mungkin ia sakit. Tidak, jawabnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya. Bukan ia yg sakit, perempuan di depannya yg sakit. Karena masuk akal buatnya untuk ingin menemui perempuan ini lagi dan lagi, tapi buat perempuan ini? Perempuan ini pasti sangat sakit untuk mau menemuinya lagi. Atau terlalu baik. Atau.. cinta? Mungkinkah perempuan ini masih menyisakan cinta untuknya? Ia menatap mata perempuan itu.

“Renata, kamu bahagia?” Perempuan itu diam seraya menatapnya. Diam. Satu.. dua.. lima detik berlalu. Perempuan itu pun menghela napasnya.

“Iya, Tama. Saya bahagia. Saya ga ingin apapun dari hidup saya sekarang berubah. Not even one thing. Tapi kamu juga tahu, rasa itu masih selalu ada. Sakit, kecewa, ga percaya, marah, mengutuki diri sendiri, rindu, maaf, semua terkubur bersama sejuta momen yg ga bisa saya cabut dari kepala saya dan segala tanda tanya yg cuma bisa saya relain keberadaaannya. Semakin lama saya ngejalanin hidup saya, semakin saya sadar kalau Fachri bukan pilihan. He’s the only option for me. Not because I can’t afford to have another, but he just it. He is everything. so yes, I am happy as I am.” Perempuan itu melontarkan kalimat terjujurnya. Lelaki itu tahu, ia ikut bahagia mendengarnya. Tapi.. kenapa karat-karat ini tidak kunjung pudar? Setiap ia memberanikan diri menatap mata perempuan ini, karat-karat di dadanya bagai beradu bergesekan, mengeluarkan bunyi-bunyi aneh yg menyesakkan nafasnya.

“Gini loh.. kamu bisa menjalani hidup kamu dengan gampang karena ga banyak yg berubah. Kamu ngedapetin orang yg kaya saya, tapi lebih baik. Kamu ngejalanin hubungan kamu seperti kamu menjalani hubungan kamu dengan saya dulu, tapi lebih menyenangkan. Ga banyak yg berubah. Buat saya ga gitu. I live a completely different life, have someone completely different than you, and having a relationship like nothing I’ve had with you. In a sense, what I have now is better than I can imagine and is exactly like I’ve always wanted. But it’s different. So it needs a lot more adjusting aside from a lot of cherishing.” Perempuan itu tersenyum. Bukan pada pria di depannya, ia tersenyum karena ia tiba-tiba teringat ejekan Fachri tadi malam. Ia  sangat mensyukuri momen-momen pribadi yg mereka bagi tiap sebelum tidur itu.

Lelaki itu kembali melihat jam. Jam enam kurang lima menit. Ia tahu, ia harus merelakan waktu berlalu lagi, menampik semua permohonannya. “Udah jam enam, Ta. Kamu mau saya anter ke kantor Fachri?” Tanyanya dengan nada kalah. Kalah karena waktu sudah pasti tidak berpihak padanya.

Nope. Ga usah, Tam. Saya bisa sendiri kok. Lagian saya ga mau cari masalah sama nyonya besar, nanti disangkanya saya kegenitan sama kamu. Hih,” jawab perempuan itu santai. “Oh iya, Fachri titip salam. Dia ga suka saya ketemu sama kamu -saya juga ga sih sebenernya- tapi dia ngehargain niat kamu karena udah ngomong langsung ke dia. I won’t say goodbye, but I do hope whatever it is bothering your heart, is done now. Hujan juga ada raatnya, bukan? Hehehe.. Ya sudah, saya jalan ya,” perempuan itu pun tersenyum dan berdiri meninggalkan tempat duduknya. Lelaki itu tersenyum. Ibunya benar, ada hal-hal yg memang tidak akan pernah ada jawabannya. Ia hanya perlu menerima. Apa ini saatnya berhenti mencari dan mulai menerima? Mungkin. Mungkin.. pikirnya.

Once upon a time before that..

“Sometime letting go of your past seems like the hardest thing to do, but in reality, accepting your future is harder.”

Perempuan itu melotot. Bibirnya mengerut. Tangannya mengepal menahan marah. Seluruh gerak-geriknya tampak seperti bom waktu yg siap meledak.

“Sembilan belas! Sembilan belas September kamu jadian sama perempuan itu, Tama! Sembilan belas September! Kamu putus sama saya tanggal berapa? Hah? Empat belas, Tama.. EMPAT BELAS! Kamu jadian sama perempuan itu lima hari abis kita putus! Lima. Hari. Semua.. semua kata-kata maaf, kata-kata berharap bisa balikan, semua gombalan itu ternyata memang cuma sebatas gombalan kan?? Ya Allah, Tam.. Ga berenti kamu boongin saya ya? Nyakitin saya? Saya kurang nangis apa sih, Tam? Hah?!” Dan bom itu pun meledak. Beberapa pasang mata di kafe itu mulai melirik ke arah teriakan perempuan itu, tapi ia bergeming. Ia tidak peduli lagi apa yg akan orang-orang itu pikirkan. Ia cuma mau semua rasa sakitnya keluar. Cintanya, perihnya, semua. Keluar pergi bersama setiap naikan oktafnya.

“Kamu tau persis, Tam! Tau persis! Sama saya itu cuma satu, jangan bohong. Kamu mau brengsek? Mau ga cinta sama saya lagi? Man up and say it straight to my face for god damn sake! FUCK!” Teriaknya lagi tak mampu menahan kata-kata yg sudah berbulan-bulan tersimpan di dadanya. Perempuan ini tidak pernah ingin ada kejadian ini. Tidak pernah mimpi berteriak-teriak di tengah tempat umum seperti sekarang. Tapi lelaki di depannya ini tak tahu batas. Ia tiba-tiba meneleponnya di tengah hari bolong dan mengajaknya bertemu. Ada yg belum selesai, katanya. Cih. Jelas saja belum selesai, semua kalimatnya tak lain hanya kebohongan, meninggalkan seribu tanda tanya yg berkarat menjadi borok di hatinya. Dan sekarang lelaki ini hanya bisa menunduk? Menunduk? Oh my

“Ini tuh ga segamblang yg kamu pikirin, Ta. Ga sesederhana it..”

“Ya jelasin! Sederhana, rumit, apapun. Jelasin ke saya! Kamu ga ngerti gimana frustasinya saya ga pernah bisa ngerti kenapa keadaannya jadi begini. Ga pernah ngerti kenapa kamu ngelakuin semua yg kamu lakuin. I just need to understand. I need to understand, Tam.. so I can let go any of this..” perempuan itu pun mulai terisak. Pelan. Tapi sudah cukup untuk membuat tiap sengguknya bagai sayatan di hati lelaki itu. Ia cinta perempuan di depannya ini, cinta. Tidak salah lagi. Walaupun sudah ratusan kali ia meragukan rasanya pada perempuan itu, tiap kali selalu berujung ke kesimpulan yg sama: ia cinta. Rasa cinta itu yg membuatnya berani menekan urutan angka yg sudah ia hapal di luar kepala, berani mengucap sapa yg diakhiri ajakan bersua. Tapi melihat perempuan yg ia cinta menangis karenanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menanggung semua sakit perempuan itu, kalau saja bisa. Tapi bagaimana caranya?

“Renata.. aku..”

“Minta maaf?” Perempuan itu menyelesaikan kalimat yg juga sudah dihapalnya benar.

“Kenapa sih kamu ga pernah ngerti, Tam. Bukan maaf kamu. Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali kamu minta maaf pun ga akan bikin luka saya sembuh.”

“Iya, aku tau.. Saya emang udah brengsek banget sama kamu, Ta.”

“Ga! Sorry. Maksudnya, iya. Kamu brengsek banget. Tapi ga, kamu ga tau apa-apa. Kamu mau maaf? Saya bisa maafin kamu. Bahkan saya cukup yakin kalo saya udah maafin kamu, ga perlu lagi diuji dengan banyaknya permintaan maaf kamu itu. Sekarang bukan itu yg saya butuh, bukan maaf ataupun rasa bersalah kamu. Saya butuh ngerti, Tam. Butuh ngerti.. kenapa kamu bisa bilang kamu cinta, kamu bilang kamu maunya saya, tapi ujungnya semua pilihan kamu ga nunjukin itu sama sekali.. Saya butuh berhenti. Butuh tutup buku dari semua mimpi buruk ini dan mulai nulis cerita baru. Tapi untuk itu, saya butuh semua tanda tanya yg ada di kepala saya ini selesai. Itu pun kamu ga bisa kasih sama saya.”

“Renata.. bukan git.. bukan say.. buk.. argh!” Lelaki itu menggebrak meja yang lagi-lagi membuat semua tatapan orang di kafe itu beralih ke tempat ia dan perempuan itu duduk. Bukan ia tak mau memberi apa yg dicari perempuan ini, ia tak bisa. Karena ia pun tak tahu jawabannya. Tangannya mulai menggaruk-garuk rambut kebanggaannya dengan gusar. Kalau saja bisa, ia juga ingin berteriak saat ini. Tapi beda dengan teriakan perempuan itu, teriakannya tidak akan berbentuk kata. Hanya kumpulan bunyi tanpa arti, yg penting keluar. Keluar bersama rasa sesaknya yg dari tadi ada di dada. Ia ingin membanting gelas, membalikkan meja, lebih gila, ia ingin melempar api ke arah pasangan yg dari tadi bermesraan dua meter di belakang punggung perempuan itu. Ia ingin marah. Tapi tidak mungkin. Ia tahu bahwa perempuan itu lebih butuh pelepasan, bukan pemandangan yg sarat kekerasan. Jadi ia diam saja dan mulai menunduk lagi, pekerjaan yg sepertinya mulai menjadi hobi lelaki itu tiap kali bertemu dengan perempuan di depannya ini.

“Kalau kamu ga bisa ngasih apa yg saya butuhin, kamu mending pulang, Tam.” Katanya masih sambil berisak. Ia tak sanggup menahan tangisnya, sekeras apapun ia mencoba.

“Pulang dan ga usah lagi sok-sok telepon saya bilang ada yg belum selesai. Percuma. Kalau pertemuannya cuma akan seperti ini lagi, sampai kapanpun tidak akan selesai. Kalau mau selesai, caranya cuma satu. Saya cuma harus merelakan untuk selamanya jadi pihak yg tidak mengerti, itu saja.” Lelaki itu masih menunduk. Menatap sepatunya yg ia mulai hapal betul letak setiap miring jahitan ataupun garis kerutannya setelah tak terhitung berapa kali ia menunduk menatapnya hari ini. Ia menimbang- menimbang apa yg paling baik dilakukan saat ini. Pergi? Bertahan duduk di depan perempuan itu tanpa bisa memberikan apa yg dimintanya, dibutuhkannya? Apa?

“Mmh.. saya ga bisa. Saya ga bisa pergi ninggalin kamu dengan keadaan kaya gini.” Katanya reflek. Padahal bukan kata-kata itu yg barusan terancang di otaknya.

“Huh. Kamu udah ninggalin saya dalam keadaan jauh lebih parah dari ini beberapa bulan lalu, Tam. Apa bedanya sama sekarang?” Sindir perempuan itu tajam. Perempuan itu memang selalu lihai dalam menyindir seseorang, menorehkan luka tak kasat mata melalui belati di lidahnya. Lelaki itu pun terdiam.

“Baik.. kalau itu mau kamu, saya akan pergi sekar..”

Oh, fuck it! Ga bisa gitu kamu sekali aja jadi laki-laki dan ambil tanggung jawab sama pilihan kamu? Pergi ya pergi aja, ga usah lagi bawa-bawa ‘kalau itu mau kamu’ seakan-akan itu satu-satunya alasan kamu milih pergi!” Matanya yg bengkak karena menangis sekarang menatap lelaki itu geram. Menantang lelaki itu bersikap selayaknya pejantan, untuk terakhir ini saja. Lelaki itu menunduk lagi, menghembuskan napas panjang, dan mengangkat kepalanya menatap perempuan itu.

“Oke. Saya pergi ya. Saya berdoa supaya kamu bisa nemuin orang yg bisa bahagiain kamu lebih dari apapun. Ga kayak saya yg kerjanya cuma nyakitin kamu. Saya bener-bener minta maaf, Ta. Asal kamu tau, piala itu -piala yg aku kasih ke kamu dulu, itu masih kamu orangnya, Ta. Have a wonderful life, Renata..” Lelaki itu berdiri dari sovanya dan melangkah ke arah pintu keluar, perempuan itu melirik sekilas ke arah punggungnya. Sedetik. Lalu ia melanjutkan isaknya. Membiarkan air matanya sekali lagi menyelimuti lukanya. Biar saja, satu hari lagi saja. Karena besok ia akan kembali membusungkan dadanya, menaikkan dagunya, siap menerjang apapun yg diberikan hidup padanya. Tapi hari ini, ia hanya ingin menangis sepuasnya.

Once upon a time

Lelaki itu memainkan rokok yang sedaritadi berada di tangannya. Matanya berlari-lari ke segala penjuru, kecuali satu tempat itu. Tempat sepasang mata dari seorang perempuan yang sangat dikenalnya berada. Ia sering mendengar kata mutiara bahwa mata adalah jendela hati, tapi baru malam ini ia benar-benar mengerti artinya.

“yah, begitu lah. Kamu kenal saya kan..” ucapnya dengan sedikit kaku diiringi tawa kecil yang dipaksakan. Perempuan itu langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan dua anak kecil yang sibuk berlarian di bawah rintik hujan. Tetiba perempuan itu merasa getir. Dulu juga ia suka berlarian di bawah hujan, tertawa-tawa tanpa beban tanpa perlu memikirkan baju dalamnya yang akan tembus pandang ataupun ratusan ribu yang baru saja ia habiskan di salon terkemuka untuk membuat rambutnya terlihat sempurna seperti sekarang.

No, I don’t” sahut perempuan itu dengan suara yang nyaris tak terdengar dan pandangan yang masih mengarah ke dua anak kecil tadi.

“Hah? Kamu barusan ngomong sesuatu?” Tanya lelaki itu sedikit bingung. Perempuan itu lalu menengok ke arahnya. Membuat kontak mata yang dari tadi ia hindari. Ia tak bisa lari lagi, saatnya harus menghadapi, pikir lelaki itu.

I don’t know you. I used to know you. Not anymore” ucap perempuan itu mantap tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari sepasang mata yang ketakutan itu. Lelaki itu terdiam. Ia mematikan rokoknya dan menatap perempuan itu dengan serius.

“Iya, salah saya. Kamu ga kenal saya lagi, saya sadar sepenuhnya emang salah saya. Saya minta maaf. Tapi saya belum berubah, Ta. Masih Tama yang kamu kenal. Saya masih laki-laki itu, lelaki payah yang suka nangis di depan kamu. Masih sama Ta, ga berubah.”

No. You’re not. Kamu bukan Tama yang saya kenal. Bahkan saya pun juga bukan Renata yang kamu kenal. Kita bukan lagi ‘renatama’ yang dulu kita tulis di mana-mana. Lebih jauh, kita udah bukan kita. Sekarang cuma ada kamu, Tama, dan saya, Renata. Dua hal yang ga ada hubungannya. Jadi saya ga ngerti untuk apa ada basa-basi bertukar kabar ini. Kamu mau apa sih sebenernya?” Perempuan itu mulai kesal, ia merasa diremehkan. Dua tahun sudah mereka tidak bertegur sapa, hanya karena pertemuan tak sengaja di warung kopi ini tetiba lelaki ini bersikap kalau semua hal masih sama. Dia pikir dia siapa, rutuk perempuan itu.

“Saya.. cuma..” ingin minta maaf, lanjutnya dalam hati. Kata yang tak pernah berhasil melukiskan rasa bersalahnya. Seberapa banyak pun kata itu terucap, tidak akan pernah cukup untuk bisa menarik lagi perbuatannya dan menghapus luka perempuan itu, pikirnya. Lelaki itu mengambil rokok yang ada di sebelah tangan kanannya dan mulai menyalakan satu batang racun favoritnya. Salah, bukan rokok, racun favoritnya adalah cintanya pada perempuan yang ada di depannya ini, lanturnya dalam hati. Cinta yang ia pikir sudah lama mati sampai tadi ia tidak sengaja bertemu mata itu lagi.

“Terus, apa kabar.. mmh.. Fachri?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Perempuan itu sudah mengalihkan pandangan dari matanya, lelaki itu merasa sedikit lega.

“Baik,” katanya seraya mengangkat tangan kanannya, membuat cincin bermata satu yang bertengger di jari manisnya terlihat jelas. Lelaki itu tersenyum. Sudah tahu, katanya dalam hati. Kamu bukan satu-satunya stalker di sini, Ta.

“Alhamdulillah.. saya bahagia dengernya,” ucapnya dengan nada setulus mungkin.

“Please deh Tam, tanpa denger kabar itu juga kamu udah sangat bahagia. Ga usah sok noble,” jawabnya asal. Dua anak tadi masih berlarian di pinggir jalan, memainkan payung mereka yang sudah setengah usang. Ojeg payung? Pikir perempuan itu penasaran. Sederhana sekali konsep bahagia mereka, lanturnya dalam hati. Ia mendadak merasa sangat bosan dengan segala basa-basi yang disuguhkan lelaki di depannya, ia ingin cepat pulang tapi hujan sialan itu menahannya di sini. Padahal Fachri pasti sudah di rumah, menantinya dengan semangkuk pasta panggang seperti yang sudah dijanjikannya dari minggu lalu. Ia lalu teringat tadi malam, bagaimana Fachri memeluknya dengan erat sepanjang mereka bercinta, ia tersenyum mengingatnya.

“Ta..” panggil lelaki itu pelan. Perempuan itu seperti baru tersadar dari lamunannya lalu menengok ke arahnya dengan mimik seakan menantang ‘mau ngomong apa lagi?’. Lelaki itu ciut. Semua keberaniannya yang ada tadi ketika tak sengaja berpapasan dengan perempuan ini dan mengundangnya duduk semeja dengannya, sekarang hilang entah ke mana. Mungkin seharusnya ia tadi lari saja kembali ke mobilnya. Toh jaraknya hanya beberapa langkah dari warung kopi ini, dan ia jelas tidak akan mati hanya karena masuk angin kehujanan, pikirnya. Tapi sesuatu yang sedari tadi berputar di perutnya tiap ia memandang perempuan di depannya ini membuat kakinya kaku dan berjalan dengan sendirinya. Ke arah perempuan ini.

“Kemarin-kemarin ini Ibu sempet ngomongin kamu loh,” kata-kata itu meluncur keluar dari mulut lelaki itu tanpa sadar. “Katanya dia liat facebook kamu dan liat foto kamu pas lagi di NY, dia bilang dia bangga sama kamu tuh. Katanya kamu akhirnya bisa ngewujudin impian kamu ke sana dan dia ikut seneng,” lanjutnya.

“Oh. Tapi pasti lebih bangga pas dia punya cucu  kan?” jawab perempuan itu penuh nada sindiran. Lelaki itu langsung terdiam. Lelaki itu tahu, ia pantas mendapatkannya. Sindiran itu, maupun sindiran yang mungkin akan datang berikutnya. Ia tahu. Lalu kenapa ia tetap nekat menahan perempuan ini duduk di meja yang sama dengannya, ia pun tidak tahu jawabannya. Koreksi lagi, ia tahu persis kenapa. Detak jantungnya yang sudah dari tiga puluh menit yang lalu berdetak lebih kencang dari biasanya buktinya.

“Maaf Tam, tapi kita berdua juga tahu kalo apapun yang ibu kamu pikirin soal saya, sekarang udah ga ada hubungannya sama saya. Kamu punya hidup yang kamu urusin, punya istri yang pasti udah bersusah payah untuk bikin ibu kamu bangga, jadi omongan kamu barusan itu ga ada kepentingannya untuk kamu kasih tahu saya. Saya tahu, alasan kamu sekarang duduk di depan saya sok-sok ngajak saya ngobrol itu karena rasa bersalah kamu yang mendadak balik lagi pas kamu liat saya tadi. Maaf juga, tapi rasa bersalah kamu ke saya itu bukan urusan saya. Segala hal tentang kamu sekarang bukan urusan saya. Udah ya. Saya rasa cukup basa-basinya. Saya mau pulang, Fachri pasti ga suka saya lama-lama di sini bareng kamu. Bye,” perempuan itu beranjak dari tempat duduknya. Ia mencoba untuk melihat sepasang mata itu terakhir kalinya. Mata yang dulu selalu bisa membuatnya luluh, apapun keadaannya. Mata yang baru saja sukses membuka lagi luka lamanya. Membuat dadanya sesak menahan marah, dan matanya perih menahan tangis yang tidak boleh ia keluarkan. Tidak di sini, pikir perempuan itu, tidak untuk lelaki ini. Perempuan itu tidak ingin meneteskan barang setetespun air matanya untuk lelaki ini lagi. Ia membalikkan badannya dan langsung berjalan ke pintu keluar. Dia akan membuat dua anak kecil tadi tidak sia-sia kehujanan, hiburnya.

Lelaki itu ingin sekali menahannya pergi. Tapi ia juga tidak tahu untuk apa. Sudah terlambat untuk menahannya sekarang, terlambat tiga puluh enam bulan tiga minggu sebelas hari lalu. Kalau beranak mungkin sudah jadi tiga, lanturnya lagi. Ia lalu teringat lelaki mungilnya di rumah. Ia teringat senyumnya dan celoteh kecil ‘da..da..da..’ tiap ia menggendongnya. Tetiba saja, alasan apapun yang membuatnya ingin menahan perempuan itu dan berlama-lama duduk di warung kopi ini terasa tidak penting lagi. Betul, sama seperti perempuan itu, ia pun harus segera pulang. Ada sebentuk nyawa yang sedang menunggunya di sana.